The 101st Anniversary of Azerbaijan Republic : Togetherness in Diversity

 

WhatsApp Image 2019-05-01 at 10.49.23.jpeg

Yesterday (monday, 29 April 2019) was a very special day, because the Azerbaijan Embassy in Indonesia held the Celebration of the 101st anniversary of the proclamation of Azerbaijan Democratic Republic, and also celebrate the 100 years of Diplomatic Service of the Republic of Azerbaijan. I feel honored to be part of this celebration, especially when the National Anthem of Indonesia and Azerbaijan was echoed. My heart fluttering. Although I don’t know what is the meaning of the song, but I can feel the spirit of Azerbaijan nationalism.

“In order to maintain your honor,
In order to elevate your flag,
In order to maintain your honor,
The young are intended sententiously!
The glorious Homeland, The glorious Homeland,
Azerbaijan! Azerbaijan!
Azerbaijan! Azerbaijan!

(English Translation of Azerbaijan National Anthem,
Source : Wikipedia)

WhatsApp Image 2019-05-01 at 10.33.32

More than 200 distinguished guests come to Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski. There are Mr Ruslan Nasibov as Charge d’affairs of Azerbaijan embassy in Indonesia, Prof. Dr Muhajir Effendy as the Minister of Education and Culture of Indonesia,  Sofyan Djalil as is the Minister of Agriculture and Land Planning, and also Meutya Hafid (DPR-RI & Golkar Fraction).

Keynote Statement of Mr. Ruslan Nasibov : Azerbaijan’s Rapid Development

Mr. Ruslan Nasibov open the event by giving a speech about Azerbaijan country and also the condition of Azerbaijan Nowadays. Azerbaijan is a landlocked country in the South Caucasus region of Eurasia at the crossroads of Eastern Europe and Western Asia. Around 97% of the population are Muslims, 85% of the Muslims are Shia Muslims and 15% Sunni Muslims, and the Republic of Azerbaijan has the second highest Shia population percentage in the world.

WhatsApp Image 2019-05-01 at 10.43.42

On 28 May 1918 Azerbaijan declared its independence establishing the Azerbaijan Democratic Republic. it was the first parliamentary democracy in the Muslim world, which is granted all people the rights to vote regardless of race, gender, ethnicity, and religion. Azerbaijan become the first country in the world who give women equal political rights. However, in April 28, 1920 the Azerbaijan Democratic Republic was overthrown by the Bolsheviks and later inclusion of Azerbaijan into the Soviet Union.

On 24 of August 2007, The President of the Republic of Azerbaijan H.E. Mr. Ilham Aliyev signed an Order on the Diplomatic Service Day of the Republic of Azerbaijan to be celebrated on July 9. After long restoration, Azerbaijan raised a rapid economic development.  In the last fifteen years, the proverty level decreased to 5,4 percent and Azerbaijan population reached 20 million people. 15,000 km of roads and highways were built in Azerbaijan during last 15 years. The country is ranked 34th by quality of road infrastructure in the assessment of the Davos World Economic Forum. The spectacular city race of Formula one SOCAR Azerbaijan Grand Prix 2019 also held in Baku.

Bilateral Relationship Between Indonesia and Azerbaijan

Bilateral relations between Azerbaijan and Indonesia have been developing quickly and dynamically since the two countries established diplomatic relations in 1992. This year Azerbaijan Assumes chairmanship in Non-Alignment movement and will host Summit of NAM on 21-26 October 2019 under theme “NAM Baku Summit: Upholding the Bandung Principles, to ensure a concerted and adequate response to the challenges of a contemporary world”

This year,  Azerbaijan for the first time participated the “Europe on Screen” film festival held in eight cities of Indonesia from 18 to 30 April. a film from Azerbaijan, “Ali and Nino”, which has a team of producers comprising the famous Kris Thykier and Vice-President of Heydar Aliyev Foundation Leyla Aliyeva as Executive Producer, is based on the eponymous bestseller of Qurban Said.

WhatsApp Image 2019-04-30 at 12.57.33

In this special day, Azerbaijan made collaboration with Post Indonesia to inaugurating post stamp especially on the Occasion of 100 years of Diplomatic Service of the Republic of Azerbaijan.  I hope there will be more collaboration between Indonesia and Azerbaijan In many sector, and will be eager to work together to explore more opportunities for the upcoming years.

Semoga Azerbaijan tetap berjaya dan semakin makmur
Semoga Indonesia tetap berjaya dan semakin makmur
WhatsApp Image 2019-04-30 at 20.39.39

 

Iklan

Berkarya sambil Berbagi :Charity Art Exhibition and Auction 2019

Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Hal inilah yang diperjuangkan oleh Saraswati Learning Center, salah satu sekolah untuk anak berkebutuhan khusus di Jakarta Pusat. Tepat di hari Kartini 21 April 2019, Saraswati learning center berkolaborasi dengan Indoindians menggelar acara Charity Art Exhibition and Auction di Apartemen 1Park Avenue di kawasan Jakarta Selatan. Sejumlah seniman yang tergabung dalam organisasi indoindians turut memamerkan hasil karya mereka dalam bentuk lukisan dan kerajinan tangan. Tidak hanya itu, satu karya dari masing-masing seniman tersebut akan diiikutsertakan dalam lelang yang merupakan puncak dari kegiatan Charity pada hari itu.

IMG_20190421_152810
Every art has its own beauty. Same with the special kids that has a different ability
IMG_20190421_155022
All of artist from Indoindians organization

Lelang lukisan dan kerajinan tangan yang digelar dalam kegiatan ini sangatlah unik. Setiap partisipan lelang (Sponsor) akan menyumbangkan donasi sebesar 750 ribu per bulan untuk membantu biaya pendidikan satu anak di sekolah Saraswati Learning Center. Setidaknya lebih dari 100 peserta mengikuti acara lelang tersebut. Lukisan yang mendapatkan sponsor terbanyak adalah lukisan milik Vaishali Deepak yang berjudul “Faith, Hope, Love”. Peserta sponsor dari lukisan tersebut akan menyumbangkan dana sebesar 750 ribu per bulan selama 22 bulan. Artinya total donasi yang diberikan untuk membantu biaya pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus adalah 16.500.00 rupiah.

WhatsApp Image 2019-04-27 at 14.41.16
Auction of Vaishali Deepak’s paintings

Rupanya ada kisah menarik dibalik lukisan milik Vaishali Deepak. Lukisan tersebut didedikasikan bagi putrinya yang bernama Myra. Pada usia 11 tahun, Myra didiagnosa mengidap leukimia. Sejak saat itu ia hampir kehilangan seluruh memampuannya untuk menggerakkan otot-otot dan sulit untuk berjalan. Hal tersebut tidak membuat Myra berputus asa, ia terus berjuang untuk melawan penyakitnya. Berkat semangat dan dukungan dari orang-orang disekitarnya, kini Myra telah berhasil menjadi seorang survivor kanker. Tidak hanya itu, tetapi Myra juga mampu menari diatas kedua kakinya sendiri. Lukisan tersebut adalah wujud rasa syukur atas segalah hal yang terjadi dalam kehidupannya. Sungguh sangat mengharukan ya teman-teman.

WhatsApp Image 2019-04-21 at 17.17.36
Title : Faith, Hope, Love Medium : Acrilic on Canvas

Saya juga sangat bersyukur karena berkesempatan untuk berbicara dengan salah satu seniman dari organisasi indoindians Swati Chavhan. Sejak bergabung dangan organisasi Indoindians pada tahun 2011, Swati mendapatkan banyak kesempatan untuk memperlihatkan hasil karyanya kepada masyarakat luas. Ia juga sangat senang bisa menyumbangkan karyanya bagi pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Saraswati Learning Center. Setiap tahunnya berbagai acara digelar oleh Indoindians , salah satunya adalah kolaborasi saraswati learning center. Seluruh hasil yang didapatkan selama acara akan didonasikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan bantuan dana pendidikan.

IMG_20190421_145501
a very humbled Miss Swati and her paintings

Reshma Wijaya Bhojwani, selaku pendiri dan kepala sekolah Saraswati Learning Center memiliki harapan besar agar kedepannya semakin banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang bisa mendapatkan pendidikan terbaik. Reshma juga sangat mengapresiasi seluruh partisipan dan pihak-pihak yang terlibat dalam acara Charity Art Exhibition and Auction tahun ini. Reshma berharap agar masyarakat dapat ikut serta menjadi “Agent of change” untuk menjadikan Jakarta yang semakin inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

IMG_20190421_174658

Down Syndrome Awareness Day 2019

Hari ketika Sheryl putriku dilahirkan ia tidak menangis, tidak bernapas, dan detak jantungnya sangat lemah sehingga dokter harus memompa dadanya. Tubuh mungilnya mulai berwarna hitam kebiruan. Saat itu aku tau bahwa ada yang salah dengan kondisi putriku. Dokter terus memompa dadanya, dan ketika garis diantara kehidupan dan kematian sangatlah tipis, putriku mulai bernapas. Aku menyaksikan putriku berjuang untuk “Hidup”.  Setelah dokter memeriksa keadaan putriku, ia mendiagnosa putriku mengalami down syndrome. – Reshma Wijaya Bhojwani-

WhatsApp Image 2019-03-25 at 19.07.17

Atmosfer kebahagian menyelimuti Sekolah Saraswati Learning Center pagi itu. Seluruh tamu undangan dan guru-guru kompak mengenakan pita berwarna kuning biru sebagai simbol dukungan bagi anak-anak down syndrome. Ya, hari ini tanggal 21 Maret 2019 adalah hari yang spesial bagi anak-anak down syndrome di seluruh dunia. PBB menetapkan tanggal 21 bulan 3 sebagai hari down syndrome Internasional, karena angka tersebut merepresentasikan penyebab terjadinya down syndrome, yaitu penambahan kromoson ke-21 yang semula 2 menjadi 3 (trisomi).

Hari itu saya sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk meliput acara “Down syndrome awareness day” yang diadakan oleh Saraswati Learning Center (Sekolah anak berkebutuhan khusus) di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.  Reshma Wijaya Bhojwani adalah pendiri sekaligus kepala sekolah dari Saraswati Learning Center. Memiliki seorang putri yang mengalami down syndrome menginspirasi Reshma untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Reshma optimis bahwa pendidikan merupakan kunci kesuksesan dan kemandirian pada anak-anak berkebutuhan khusus di masa yang akan datang.

Gerakan Jakarta Inklusif

Selain mendirikan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus, Resma Bersama dengan para aktivis lainnya menginisiasi sebuah gerakan yang dinamakan “Gerakan Jakarta inklusif”. Gerakan ini bertujuan untuk memberikan edukasi bagi masyarakat untuk lebih peduli pada anak-anak berkebutuhan khusus. Mayarakat diharapkan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada anak berkebutuhan khusus untuk mengambil peran dalam kehidupan sosial. Misalnya hak untuk mendapatkan Pendidikan, pekerjaan, pelayanan kesehatan serta pengakuan sosial. Semua ini bisa terwujud apabila ada koordinasi dari semua pihak untuk bisa mewujudkan Jakarta inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.

Deteksi Dini dan treatment untuk Mengoptinalkan Potensi Anak Down Syndrome

Acara diawali dengan talk show bersama dokter Jhony Bahirwani, SpOG dari rumah sakit Royal Progress. Dokter Jhony mengungkapkan bahwa saat ini teknologi medis sudah berkembang pesat, sehingga deteksi dini bagi janin yang beresiko tinggi mengalami down syndrome dapat di deteksi ketika janin berusia 8-9 minggu. Oleh karena itu, dokter Jhony menghimbau agar para calon ibu berinisyatif untuk melakukan tes tersebut.

Tes yang dilakukan untuk mendeteksi gangguan pada janin disebut Chorionic Villus Sampling (CVS) tes ini dapat mendeteksi kelainan-kelainan pada janin terutama pada bayi yang memiliki resiko kelainan genetik. Dokter Jhony mengatakan bahwa saat ini belum diketahui penyabab pasti dari terjadinya down syndrome. Akan tetapi, kehamilan ibu yang berusia diatas 35 tahun akan lebih beresiko untuk memiliki anak dengan down syndrome.

Apabila hasil tes CVS mendiagnosa resiko tinggi anak mengalami down syndrome, maka ibu akan diberikan pilihan untuk tetap melanjutkan kehamilan ataupun melakukan pengguguran (termination). Tentunya saat ini di Indonesia masih memiliki banyak kontradiktif mengenai tindakan terminasi pada janin. Akan tetapi, melalui tes CVS calon ibu akan memiliki persiapan untuk belajar lebih dalam mengenai cara membesarkan anak dengan down syndrome. Konseling dengan psikolog dan terapis untuk anak-anak down syndrome diperlukan untuk meningkatkan kesiapan psikologis dari orang tua.

Anggun selaku psikolog klinis di Saraswati Learning Center mengungkapkan bahwa orang tua perlu untuk mempersiapkan diri untuk dapat mengoptimalkan potensi dari anak down syndrome. Anak perlu menjalani asessment dan terapi sedini mungkin agar fungsi kognitif, emosional, dan motoriknya berkembang dengan maksimal. Tentu hal ini memerlukan kerjasama kooperatif dan konsistensi orang tua untuk melakukan treatment. Anggun berpesan kepada para orang tua untuk tidak terjebak dalam kondisi disability anak, melainkan mengembangkan ability anak. Dengan penanganan yang tepat dan sedini mungkin maka anak-anak dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Tentunya hal ini akan memperbesar kesempatan anak untuk bisa hidup mandiri dikemudian hari.

WhatsApp Image 2019-03-25 at 19.13.55

Selain sesi talkshow dari Narasumber, adapula pertunjukan dari murid-murid berkebutuhan khusus di Saraswati Learning Center. Saya sangat terkesan melihat performance mereka karena mereka sangat luar biasa. Dibalik keterbatasannya mereka memiliki kelebihan di bidangnya masing-masing. Tidak hanya itu, selama acara berlangsung terdapat Booth Stand yang menjual produk-produk yang dibuat oleh murid-murid di SLC. Saya pun tertarik untuk membeli gelang dengan lambang “Hope” karena desainnya yang sangat bagus dan elegan.

Melalui perayaan hari Down Syndrome hari ini, saya sangat berharap kedepannya masyarakat di Indonesia dapat lebih meningkatkan kesadaran dan kepedulian kepada mereka yang berkebutuhan khusus. Karena adalah tanggung jawab kita semua untuk saling merangkul dan menjadi agen perubahan bagi Jakarta yang lebih inklusif.

 

Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Mendongkrak Produktivitas

Buku yang kubaca selalu memberi sayap-sayap baru. Membawaku terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, menyapa semua tokoh yang ingin ku jumpai, sambil bermain di lengkung pelangi”

 

WhatsApp Image 2019-03-18 at 16.51.12
Ruang Koleksi Anak, Lantai 7 Perpustakaan Nasional RI (dok : pribadi)

Sebagai kaum milenial saya menyadari bahwa informasi, teknologi dan komunikasi saat ini sudah berkembang pesat. Sangat jauh berbeda dengan jaman dimana Gadget dan alat komunikasi lainnya belum secanggih sekarang. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMP, saya sering datang ke perpustakaan untuk membuat tugas rumah (PR). Nggak jarang saya baru bisa menyelesaikan PR setelah membaca lebih dari 10 buku. Tetapi anehnya justru saya dan teman-teman sangat menikmati proses tersebut.

Generasi milenial jaman now harus bersyukur karena mereka punya berbagai sumber untuk mencari informasi. Untuk mengakses koleksi-koleksi perpustakaan pun kini dapat dilakukan melalui smartphone. Salah satu contohnya adalah aplikasi Ipusnas yang dikelola oleh perpustakaan nasional. Terdapat lebih dari 600.000 buku digital yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh dunia.

Capture
dok : Perpustakaan Nasional

Indonesia juga turut bangga, karena saat ini Indonesia tidak lagi menduduki peringkat 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca. Berdasarkan data statistik yang dirilis oleh NOP World Culture Score Index, Indonesia menduduki peringkat 17 dengan rata-rata waktu 6 jam per minggu untuk membaca. Indonesia unggul dari negara Argentina, Turki, Spanyol, Kanada, Jerman, Amerika Serikat, italia, Mexico, Inggris, Brazil, Taiwan, Jepang dengan masing-masing 3 jam/minggu. Hal ini tentu membuktikan bahwa saat ini sebenarnya literasi di Indonesia sudah cukup baik.

chartoftheday_6125_which_countries_read_the_most_n
Dok : NOP World Culture Score Index

Dengan meningkatnya persaingan di era digitalisasi, perpustakan menghadapi tantangan yang lebih besar. Karena kedepannya perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk menyediakan buku-buku yang bersifat edukatif dan informatif, tetapi perpustakaan juga harus dapat menjangkau kebutuhan masyarakat untuk bisa bersaing. Hal ini sejalan dengan tema besar yang diusung dalam Rapat Koordinasi Nasioanl Bidang Perpustakaan tahun 2019 yaitu “Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”. Inklusi sosial sendiri memiliki makna upaya untuk meningkatkan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang sejahtera. 

Rakornas Bidang Perpustakaan  2019 Resmi Digelar

Pada hari pertama rapat koordinasi nasional bidang perpustakaan 2019 (Kamis 14 Maret 2019), saya sangat beruntung karena menjadi salah satu dari sekitar 2000 peserta yang hadir di ruangan Birawa Hotel Bidakara, Pancoran Jakarta. Rakornas hari pertama turut dihadiri oleh beberapa narasumber seperti Muhammad Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional), Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.BA (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), Ttjahjo Kumolo, S.H (Menteri dalam Negeri RI), Prof. Dr. Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, prof., S.E., M.U.P., Pj.D. (Menteri PPN/Bappenas), dan Pimpinan Komisi X. Dalam sambutannya, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo mengatakan perpustakaan memiliki peran penting dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, mandiri dan mampu berdaya saing di era global. Salah satu peran penting tersebut ialah membangun ekosistem masyarakat berpengetahuan (knowledge based society).

abel's Travel Blog
Suasana Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan 2019 di Hotel Bidakara, Pancoran Barat, Jakarta Selatan

Kegiatan Prioritas Bidang Perpustakaan 2019

Bapak Muhammad Syarif Bando selaku kepala perpustakaan Nasional RI menyampaikan bahwa kedepannya akan akan ada beberapa kegiatan prioritas nasional dengan jumlah anggaran mencapai 338.005.400. Anggaran ini akan digunakan untuk pembangunan gedung layanan perpustakaan provinsi/kabupaten/kota, rehabilitasi gedung layanan perpustakaan, serta pengembangan koleksi perpustakaan.

Harapannya dengan adanya fasilitas yang merata, perpustakan dapat menjadi ruang bagi publik untuk berkreasi, berinovasi dan penuh inspirasi. Sebagai jantung Pendidikan, perpustakaan terus berkomitmen untuk meningkatkan koleksi-koleksi bacaan untuk dapat dimanfaatkan masyarakat seoptimal mungkin. Perpustakaan juga akan melakukan berbagai macam pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan kerja, sehingga masyarakat. Nah, sekarang anggapan bahwa perpustakaan adalah tempat yang membosankan tentunya sudah berubah kan? perpustakaan kini menjangkau seluruh lapisan masyarakat untuk bisa berkembang dan meningkatkan produktivitas. Harapannya dengan meningkatnya literasi informasi dalam masyarakat maka kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

Rakornas Bidang Perpustakaan 2019, Optimisme Pemerataan Fasilitas untuk Mendongkrak Produktivitas

Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku kita seakan – akan telah menjelajahi dunia sambil berimajinasi, berpikir serta mendapatkan ilmu pengetahuan baru yang dapat memperkaya wawasan. Kini dunia literasi sudah memasuki era digitalisasi yang menawarkan kemudahan, tinggal klik dan pencet sana-sini. Namun faktanya, kemudahan ini tidak berbanding lurus dengan tingkat literasi masyarakat Indonesia yang justru menurun. Loh kok aneh ya? Berdasarkan data statistik UNESCO tahun 2016, dari total 61 negara, Indonesia menduduki posisi ke 2 dari belakang alias ranking 60. Duh, miris rasanya.

Saya mulai berkaca pada diri sendiri. Dulu sebelum punya Hp dan laptop, saya masih suka membaca minimal satu novel per minggu. Mama juga mengenalkan Majalah Bobo semenjak saya baru mengenal alfabet. Kini saya menyadari bahwa membeli buku satu saja belum tentu saya bisa lahap dalam 3 bulan, bayangkan! Ini baru saya loh, dan ternyata juga terjadi pada teman saya dan juga banyak orang. Pemahaman bahwa literasi hanya sekedar membaca apapun jelas keliru. Literasi yang baik adalah ketika kita memiliki kecerdasan dalam mengolah, memilih dan menyebarkan informasi yang kita peroleh. Hal inilah yang menjadikan literasi kita menjadi buruk. Kita seringkali hanya asik membaca dengan judul kontroversial yang isinya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Dari sinilah saya merasa kembali disadarkan akan pentingnya literasi yang baik.

IMG_20190311_174452.jpg
Lobi Perpustakaan Nasional RI (dok. pribadi)

Hal lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat literasi di Indonesia adalah ketidakmerataan fasilitas perpustakaan terutama di daerah – daerah terpencil serta kurangnya koleksi – koleksi terkini yang dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi masyarakat di berbagai daerah. Lalu apakah Pemerintah diam saja dengan kondisi ini? Tentu saja tidak. Pemerintah melalui Perpustakaan Nasional RI terus-menerus berupaya untuk memaksimalkan Penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan hingga ke desa. Contohnya dengan membuat program Perpustakaan Keliling.

Saya juga menyadari bahwa generasi milenial jaman now memiliki mindset bahwa perpustakaan adalah tempat yang membosankan untuk dikunjungi. Ketika mendengar kata perpustakaan saja rasanya sudah malas sekali dan membayangkan akan duduk membaca buku ditemani rak-rak buku tua dengan ruangan nuansa coklat. Eh tunggu dulu, perpustakaan juga berbenah dan berkembang seiring perkembangan jaman. Contohnya Perpustakaan Nasional RI yang berlokasi di Jalan Merdeka Selatan dekat Monas yang keren banget.

IMG_20190311_135622.jpg
Pemandangan Monas dari lantai 24 gedung Perpustakaan Nasional RI (dok. pribadi)

Kebetulan saya berkesempatan untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan Senin, 11 Maret 2019 di lantai 24 Perpustakaan Nasional RI. Konferensi pers ini turut dihadiri oleh Dra. Ovy Sofiana, M.Hum (Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi), Dr. Joko Santoso, M.Hum. (Kepala Biro Hukum dan Perencanaan), Dra. Sri Sumekar, M.Si (Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional RI), Dr. Bachtiar (Kepala Pusat Penerangan Kemendagri) dan Dra. Woro Titi Hariyanti, MA (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan).

IMG-20190311-WA0023.jpg
Konferensi Pers Persiapan Rapat Kerja Nasional Bidang Perpustakaan 2019 (dok. Kiki Handriyani)

Dr. Bachtiar selaku Kepala Pusat Penerangan Kemendagri menyatakan bahwa Kemendagri akan mendukung penuh seluruh program perpustakaan untuk meningkatkan literasi hingga ke desa-desa. Konferensi pers yang diadakan pada hari ini merupakan persiapan untuk Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan (Rakornas) yang akan diadakan pada tanggal  14 dan 16 Maret 2019 di Hotel Bidakara Jakarta. Rakornas tahun ini mengusung tema “Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”. Rakornas kali ini juga akan menitikberatkan pada penguatan literasi serta meningkatkan fasilitas dan pelayanan berbasis inklusi sosial agar perpustakaan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk berbagi pengalaman, belajar secara kontekstual serta meningkatkan keterampilan masyarakat dalam bidang tertentu.

Rakornas yang akan berlangsung selama 2 hari akan menghadirkan narasumber dari beberapa menteri di Kabinet Kerja Gotong Royong, antara lain Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang PS Bojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Wakil Ketua Ombudsman Adrianus E. Meliala, Pimpinan Komisi X DPR-RI, Kepala Perpustakaan Nasional, Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, Ketua akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, serta narasumber lainnya. Peserta yang akan menghadiri Rakornas ini diperkirakan akan mencapai 2000 lebih. Para perserta ini antara lain berasal dari Dinas Perpustakaan Provinsi/Kabupaten/Kota, Bappeda, Asosiasi Penerbit atau Pengusaha Rekaman, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus dan Sekolah, serta para pustakawan dan pegiat literasi di seluruh Indonesia.

Adanya Konfrensi Pers hari ini tentu memberikan sebuah optimisme baru. Melalui diselenggarakannya Rakornas Bidang Perpustakaan 2019, saya berharap agar tingkat literasi di Indonesia dapat meningkat, kemerataan fasilitas perpustakaan di daerah dapat terwujud serta perpustakaan dapat menjadi salah satu tempat berkembangnya kreativitas dan produktivitas masyarakat Indonesia.

Khojaly Genocide : The Pain That We Can Not Forget

 

Justice-Khojaly_logo_EN_Stranitsa_1
source : http://www.justiceforkhojaly.org/

The Khojaly genocide with its inconceivable
cruelty and inhuman punitive methods,
was completely targeted against the people
of Azerbaijan and represents a barbarian act
in the history of humankind. At the same time,
this genocide was a historical crime against humanity.”
Heydar Aliyev

Azerbaijan is a landlocked country in the South Caucasus region of Eurasia at the crossroads of Eastern Europe and Western Asia. Around 97% of the population are Muslims, 85% of the Muslims are Shia Muslims and 15% Sunni Muslims, and the Republic of Azerbaijan has the second highest Shia population percentage in the world.

On February 25 – 26, 1992 was a historical day that will not be forgotten by citizens of Khojaly district in Nagorno – Karabakh region of Azerbaijan with a population of 7000. The tragedy called “Khojaly Massacre / Khojaly tragedy” is one of the most of tragic moment of Azerbaijan history. The Armenian armed forces brutally massacred and killed hundreds of innocent people. There were 613 people killed, including 63 children, 106 women, 70 elderly, 8 families have completely annihilated, 25 children lost both parents, 130 children lost one parent, 487 wounded, 1275 taken hostage, 150 still missing.

On 25 February 2019, we remember again the tragedy of Khojaly by presenting International seminar with Mr. Ruslan Nasibov (Charge d’Affaires) From Azerbaijan Embassy as a speaker and Dr. Fuad Gani, S.S., MA. (Head of University of Indonesia Library) as a moderator. The seminar held at Crystal of Knowledge (University of Indonesia’s library). The main theme of the seminar is “Humanity: In Search of Justice for Peaceful Coexistence”. By following this seminar, I gain a lot of information about the Khojaly tragedy. One of my biggest question is why Khojaly occupied by Armenia has been answered very well by Mr. Ruslan. There are following reason of Armenia such as to gain a strategic advantage and favourable conditions for capturing other cities of the Nagorno – Karabakh region, to capture the only civil airport in the area that was located in Khojaly. The city was an Important center of communications, to break the spirit of Azerbaijanis in order to achieve the psychological advantage in subsequent military operations, and the last is whipping Khojaly off the face of the earth, since traces of history in Khojaly and surrounding areas represented historical evidence refuting Armenian territorial claims.

WhatsApp Image 2019-02-22 at 16.26.46
International seminar about Khojaly tragedy held at Crystal of Knowledge (University of Indonesia’s library)

The tragedy of Khojaly become the most of tragic issue that must get more attention especially the justice for the victim. Because their sadness, feeling lost can’t be replace with anything. But we can share and do the campaign about this event to let people in the world know and obtain strength for the victim that they’ll not walking alone. We walk side by side to give support to the victim and the survivors. Because the saddest part after war is the victim feeling.

At the end of the seminar, we watched the documentary film about Khojaly tragedy and being so sad to hear the stories of the victim. How the cruelty of Armenian made them lost their family member, their house. It’s kind of endless traumatic event until now on. However, Being a victim makes them stronger. Despite being in conflict, Azerbaijan is rapidly developing, Azerbaijan is regional leader and reliable international partner, and justice for Khojaly to bring prosperity to the region.

If you care with the justice for the Khojaly Victim, you can participate the campaign by keeping their memories alive, particularly by constantly informing the younger generations, spread the information, supporting the survivors and seeking way to relieve their suffering. You can also deliver the information in your social networks. I hope there will be a justice for Khojaly victims and I also hope that the genocide tragedy will never happen again anywhere.

WhatsApp Image 2019-02-25 at 19.05.35
Take a picture with a very humble  Mr. Ruslan Nasibov, Charge d’Affaires of Azerbaijan Embassy to Indonesia

Japan Cinema Week 2018 : Merayakan 60 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia – Jepang

Hari ini adalah hari terakhir dari rangkaian acara penayangan film jepang di Pekan Sinema Jepang 2018.  Pekan sinema jepang yang di selenggarakan di Bioskop CGV Grand Indonesia ini telah berlangsung sejak 7 Desember lalu. Adapun jumlah film yang diputar selama pekan sinema Jepang berjumlah 36 Film. Selain merayakan hubungan bilateral Indonesia – Jepang yang sudah terjalin selama 60 tahun, pemutaran Film – film jepang ini diharapkan dapat membangun ketertarikan masyarakat akan budaya jepang serta membuka kesempatan bagi perindustrian film jepang untuk menayangkan film- filmnya di berbagai negara (Shutterstock/Fer Gregory).

Film yang ditayangkan dalam pekan sinema Jepang 2018 dibagi menjadi 5 kategori yaitu kategori : New J-Director, New J-Film, Samurai Historical, Kira- kira Teen, Tokusatsu special Effects dan Documentaries. Pada event pekan sinema Jepang tahun ini saya berkesempatan untuk menonton 5 Film dari kategori yang berbeda- beda. Judul film yang saya tonton antara lain Bring the Melody, The Crimes that Bind, Roots, Pieta in the Toilet, dan Yakiniku Dragon. Berikut ulasan singkat dan review skor menurut saya pribadi setelah menonton beberapa tersebut.

Bring the Melody (Haruchika) – Skor 8/10

Haruchika
Picture source : http://asianwiki.com/images/2/27/Haruchika-tp.jpg

Bring the Melody Film merupakan pertama yang saya tonton selama pekan sinema Jepang berlangsung. Film berdurasi 1 jam 58 menit ini menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Chika yang ingin menghidupkan kembali klub orkestra alat musik tiup di sekolahnya. Setelah mengalami berbagai macam rintangan untuk mengumpulkan anggota, klub itu pun akhirnya kembali aktif. Tantangan terbesar muncul ketika klub tersebut ikut dalam perlombaan orkestra karena Chika yang baru pertama kali memainkan alat musik flute mengalami kesulitan untuk memainkan salah satu bagian not dalam lagu yang akan mereka tampilkan saat perlombaan. Hal tersebut membuat Chika berlatih lebih keras. Meskipun demikian, pada saat perlombaan klub mereka tetap mengalami kekalahan. Chika pun merasa bersalah dan menghindari teman-teman klub nya. Pada saat itulah tanpa di duga, teman-temannya memberikan dukungan kepada Chika dengan memainkan lagu di tengah berlangsungnya pelajaran. Chika lantas mengambil Flutenya dan mencoba memainkan bagian nya, akan tetapi Chika tidak berhasil memainkan nada dengan sempurna. Teman- temannya tidak menyerah, mereka kembali mengulangi lagu tersebut dan untuk kedua kalinya Chika tetap tidak berhasil memainkan bagiannya. Teman- temannya pun kembali memainkan lagu tersebut lagi dan lagi hingga pada akhirnya Chika mampu memainkan bagiannya dengan sempurna. Dan semua pun merasa bahagia dengan keberhasilan Chika.

The Crimes That Bind – Skor (7/10)

When_The_Curtain_of_Prayer_Descend-p2
Picture source : http://asianwiki.com/images/2/27/Haruchika-tp.jpg

Film garapan sutradara Katzuo Fuzukawa ini dibintangi oleh aktor terkenal dari Jepang yang bernama Hiroshi Abe. Film ini di adaptasi dari serial novel ” The Newcomer” yang di tulis oleh Keigo Higashino. Berawal dari penemuan mayat seorang wanita yang tewas di sebuah apartemen di distrik Katsushika, Tokyo. Setelah dilakukan investigasi, ternyata para tim kepolisian mengalami kesulitan untuk menemukan titik terang dari kasus pembunuhan tersebut. Hingga pada suatu ketika para detektif tersebut bertemu dengan sutradara teater yang sangat terkenal bernama Hiromi Asai. Kyoiciro Kaga yang diperankan oleh Hiroshi Abe sangat terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata penemuan mayat yang terbakar yang ditemukan di tempat kejadian perkara memiliki keterkaitan dengan kematian ibunya yang tewas bunuh diri. Kasus ini pun mulai menemukan titik terang setelah salah seorang detektif menemukan catatan yang bertuliskan 12 jembatan yang mengelilingi area Nihonbashi. Catatan itu pun mengungkap bahwa Hiromi Asai memiliki keterkaitan dengan mayat yang terbakar tersebut. Mayat tersebut adalah ayahnya sendiri. Rupanya kisah kelam masa kecil Hiromi membuat Ayahnya harus menjalani kehidupan dengan bersembunyi karena dirinya dianggap telah meninggal dunia sejak dulu. Karena ada saksi mata yang menemukan bahwa dirinya masih hidup, ayahnya pun membunuh saksi mata tersebut, hingga akhirnya ia tak sanggup lagi bersembunyi dan meminta kepada anaknya, Hiromi Asai untuk mengakhiri hidupnya.

Roots – Skor 8,5/10

8-1
https://jcinema2018.id/img/film/8-1.jpg

Roots merupakan film dokumentar Jepang pertama yang pernah saya tonton. Film ini memenangkan penghargaan special Mention, Ecumenical Juries Award dari Berlin International Film Festival dan Firebird Award di Hongkong  International Film Festival. Film ini menceritakan tentang pembangunan kembali desa yang terkena dampak dari gempa besar yang terjadi di Jepang Timur. Satu bulan setelah peristiwa gempa terjadi, unit film bertemu dengan Naoshi, seorang kakek yang telah lanjut usia yang tinggal di Kesen, Jepang. Saat itu, gempa dan  tsunami menghancurkan desa mereka dan juga membuatnya kehilangan anak laki-lakinya yang merupakan anggota relawan pemadam kebakaran. Meskipun demikian, Naoshi menolak untuk meninggalkan rumahnya untuk menjaga semangat nenek moyang dan juga puteranya. Bersama dengan beberapa warga lain yang pada awalnya terpencar, mereka bersama-sama memiliki tekad untuk membangun kembali desa mereka yang telah rusak karena bencana gempa dan Tsunami. Naoshi yang merupakan penebang kayu setiap hari pergi ke hutan untuk menebang kayu-kayu terbaik untuk membangun kembali rumahnya, Dengan semangat kekeluargaan, Naoshi dan warga desa berhasil untuk membangun kembali Desa mereka.

Pieta in the Toilet – Skor 6/10

MV5BZTZiNTg5MTQtOTcxYi00Zjg2LTg1ODgtM2ZiMjRlYjI5Yzk3XkEyXkFqcGdeQXVyNDgyNTMyOTA@._V1_
https://www.imdb.com/title/tt4197480/mediaviewer/rm789388032

Film kategori New J- Director ini disutradarai oleh Daishi Matsunaga dan tayang perdana pada tahun 2015. Filim ini menceritakan tentang seorang pria muda (Hiroshi Sonoda) yang tinggal seorang diri di apartemen . Suatu ketika ia di vonis menderita kanker perut yang  membuatnya harus menjalani serangkaian pengobatan di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa usianya tinggal tersisa 3 bulan lagi. Hiroshi yang memiliki bakat melukis sudah tidak melukis lagi sejak 3 tahun lalu karena sudah menyerah dengan cita-citanya untuk menjadi seorang pelukis. Suatu hari ia bertemu dengan seorang anak kecil yang juga menjalani pengobatan di rumah sakit yang sama dengan nya. Untuk pertama kalinya setelah 3 tahun Hiroshi kembali melukis. Ia juga bertemu dengan seorang gadis SMA yang membuatnya bersemangat untuk tetap hidup. Hiroshi pun bersedia untuk menjalani operasi kankernya, namun karena kankernya sudah menyebar ia pun memutuskan untuk menghentikan semua pengobatan dan kembali ke apartemennya. Hiroshi menghabiskan sisa-sisa waktunya untuk melukis di toilet kamar apartemennya. Lukisan ini menjadi lukisan terakhir Hiroshi sebelum ia pergi untuk selama-lamanya.

Yakiniku Dragon skor 8/10

MV5BZTk1NTI3MmQtOWJhZC00ZTU5LTk5ZjgtZjQ5MmZiNzFiNGExXkEyXkFqcGdeQXVyMTIzMjUxMg@@._V1_
https://www.imdb.com/title/tt8226904/mediaviewer/rm416239104

Yakiniku Dragon merupakan sebuah restoran BBQ kecil yang dikelola oleh seorang sebuah keluarga di pinggir Kansai, Jepang. Di restoran tersebut tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Sang ayah Ryukichi merupakan seorang veteran yang kehilangan lengan kiri dan tanah airnya dalam perang. Anak permpuannya, Shizuka tidak dapat berjalan dengan normal setelah mengalami kecelakaan pada masa kecil, sedangkan adik bungsu mereka, Tokio mengalami autisme sehingga ia kerap kali mengalami bullying di sekolahnya. Suatu hari, Tokio pulang dengan wajah babak belur karena dipukuli oleh teman- teman di sekolahnya. Setelah itu pun ia tidak berangkat ke sekolah untuk beberapa waktu. Guru di Sekolahnya memutuskan untuk memanggil Orang tua Tokio ke sekolah untuk memberitahukan absensi anaknya. Ibu Tokio pun membujuk ayah Tokio agar tidak memaksanya untuk pergi ke sekolah. Akan tetapi ayahnya tetap bersikeras agar Anaknya tetap bersekolah, karena ia menganggap bahwa pendidikan di Jepang adalah yang terbaik. Mendengar keputusan itu, Tokio pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas jembatan. Kematian Tokio membawa kesedihan bagi seluruh anggota keluarga. Mereka merasa bersalah atas kepergian Tokio. Akan tetapi, mereka berusaha untuk bangkit dari kesedihan dan melanjutkan hidup. Satu per satu anak perempuan menemukan cinta dan memutuskan untuk menikah. Pada suatu hari, tanah tempat tinggal mereka akan di bangun sebuah tanah milik pemerintah sehingga mengharuskan mereka untuk pindah. Akhirnya keluarga itu pun berpisah dan pindah ke tempat yang berbeda – beda. tetapi meskipun terpisah mereka yakin bahwa “tidak peduli seperti apa kemarin, besok akan menjadi hari yang lebih baik”.

Nah, demikianlah review dari saya sepurar beberapa film yang di putar dalam pekan sinema jepang 2018. Untuk mengetahui jadwal dan juga informasi mengenai japan cinema week kalian bisa mengunjungi websitenya di https://jcinema2018.id/ . Sampai jumpa lagi di postingan saya yang lainnya ya :))

OCTOBER IN WORDS

wp-image-835150150jpg.jpg
Sometimes it takes a good fall to really know where you stand

For those who feel like everything you’ve done is out of the track…

I feel you.

Maybe you start questioning yourself about what kind of life that you really want to live. Are you happy now? are you in the right track to chase your dreams? maybe you cannot answer it with definite sure answer. I still remember when I very excited to telling others about what kind of life that I really want to live. About the dreams that I really put effort to reach. But everything seems so far away. I walk out from my track. Now on, I give myself a little rest. to arrange everything start from all over again. People say that it’s okay to be confused about your life. You still 25 and it’s the time to make a lot of mistake and take the lesson. Even that sentence sounds like looking for an excuse, still that words comfort me to keep on my head held high.

Now on, I don’t know what if I will back on my track or keep walking on this track. All that I can promise to myself is I will not give up to chase my dreams. and this is the mantra that I always telling myself again and again

“Don’t stop just because people say you can’t do it. Keep going. You know your own limit. Sometimes all that you need is motivation, but it’s okay if nobody are going to support you. You have yourself, you have you. God know what’s in your heart. Just keep going”

 

2018 : Precious Year

Hi everyone! It’s been a year since I didn’t post anything on this blog. Currently, I’m not living in Yogyakarta city anymore because after my graduation day I went back to my hometown “Bekasi planet”. No more homesick, no more living alone, but the memories when I was stayed in Yogyakarta will never fade away ^^. Every settled foreign must be know very well that Yogyakarta is a nostalgic city. The place you’ll miss a lot after back to your hometown. Isn’t it? Although sometimes you got home sick attack, once you live far away from your comfort zone will make you realize that sometimes, all that we need is a space. Love grow when there’s a little distance. You appreciate togetherness, having a time to missing each other. That’s a kind of precious feeling 😊

Back then to my hometown, I started working on January.  And luckily, in this middle of 2018 I decide to quit from my first job. But honestly, I’ve planned resign since my first month working. Ya. I even can’t believe that I can stand more than 1 year 5 months working on my workplace. But this is true, good friends will make you through it all. My first job isn’t the job that I’ve dreaming of. It’s not my passion too, but I did every responsibility with a sincere heart. I must say that it’s not easy to work with the fields that you don’t like, but more than it, I realize something that “it doesn’t matter which one that you choose to do what you love or love what you do, as long as you work with a sincere heart for a true purpose, honest, and keep on grateful”.  Your blessing will always follow on your footsteps.  God is good all the time 😊

And now on I am on the way on my track again as a job seeker. Never stop learning, never stop to find your true direction. As long as you know where u want to go, just go for it. Find the things that will get you going on and on.

Geraldine's Glama-Rama Party
I don’t even know that 1,5 years working with them will make me feel so loved, I’m so grateful. Surrounded by lovely workmates, nice friends, I learned not only about profesionalism, but also about the lesson of life. Thank you for all togetherness :)) I love you all.

 

Adios Uni Life

Can you believe it was been five years? I still remember arriving in this city alone years ago. First time I traveled Yogyakarta, surely this city did not dissapointed me. it fascinates me in so many ways because there are always something feast my eyes with and it has so much to offer. Time flies, I realized that being an independent person takes courages. The courage to get over of my internal fear to face unfamiliarity on my own. How to solve my problem all by myself while I’m distant from my support system (e.g :  my family, best friends, etc). Moving to another city tought me to be mentally strong, resilient at times, be careful and cautious with every step I take because if something happens, I might be all on my own. Time and time again, I  learned so much about a unique culture and engaged in a completely different environment.

I believe that we are all addicted to something that makes us feel a little more alive.. and I guess, this is it.

Now on, I’m done with my responsibility as a student. Thank you God for everything in my life, thank you to blessing me much more than I deserve. Next stage of my life, begins…

img_20161014_111207
people who closests to my heart (minus my dad and my brother in this pic 🙂 😀 )

 

img_20161014_111139-2
My Lovely sistaaaa ❤

img_20161015_153452

 

img_4401-2

 

img_20161015_160012

14650364_10205691566927692_7767276559291677016_n-2
people who closests to my heart 🙂

img_20161015_183540_hdr-2